Yogya terkesan eksotis, salah satunya karena ada gamelan, alat musik tradisional yang telah menjadi bagian dari kultur masyarakat Yogya. Setiap tahun, seminggu menjelang perayaan Garebek Maulud sampai satu hari sebelum perayaan, terdengar bunyi gamelan di sekitar alun-alun utara.
Suara itu berasal dari seperangkat gamelan milik Keraton Yogya. Yaitu gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wiloyo yang dimainkan secara bergantian oleh para abdi dalem Keraton. Mulai pukul 08.00 sampai 12.00, kemudian pukul 14.00 sampai 17.00 dan pukul 20.00 sampai pukul 24.00 di pagongan Lor dan pagongan Kidul kompleks masjid Besar.
Suara gamelan juga terdengar dari lobby hotel-hotel berbintang yang menyambut tamu-tamu dari berbagai penjuru dunia. Gema suara gamelan itu memenuhi lorong-lorong hingga dan sayup-sayup terdengar sampai di kamar-kamar tempat tamu menginap. Sehingga menciptakan atmosfir tradisional di tengah-tengah komunitas yang mengglobal.
Setiap tahun Yogya menjadi tuan rumah festival gamelan. Andaikan sanggar seni, sekolahan, kampus, kantor pemerintah atau swasta dan warga yang memiliki gamelan, memainkannya dalam waktu bersamaan. Gamelan menjadi sound of Yogya sekaligus sarana untuk mengekspresikan rasa berkesenian warga.
Gamelan menjadi media yang menunjukkan kepedulian dan semangat persaudaraan antar seniman. Sejumlah seniman seni tradisional yang menjadi korban gempa di Yogya dan Jawa Tengah, memperoleh bantuan peralatan gamelan dari Yayasan Bagong Kussudihardja dan Komite Masyarakat Perbankan. (Kompas, 23/11)
Ketika bangunan dan komunitas tradisional seperti pasar, sanggar, balai-balai seni budaya dan bangunan yang eksotis tergusur oleh mall atau perumahan karena tuntutan modernitas. Maka suara gamelan berpotensi untuk menggantikan nilai eksotisme yang hilang.
Seni tradisi berasing dengan seni populer maka gamelan harus menjadi entitas yang menciptakan suasana Yogya semakin eksotis. Untuk itu diperlukan kecintaan masyarakat pada gamelan. Tidak harus memiliki atau memainkan semua instrumen gamelan tetapi cukup satu atau dua instrumen saja.
Campursari adalah contoh kecil bagaimana memanfaatkan beberapa instrumen gamelan sekaligus menyelaraskan selera masyarakat akan musik tradisional, populer dan kontemporer.
Sinetron Losmen yang pernah di tayangkan TVRI. Baju sorjan pak Broto dan kebaya bu Broto serta mbak Pur dapat menghadirkan atmosfir Yogya. Dan sound of Yogya timbul dari suara gender atau slenthem milik pak Broto. Jika orang Yogya terbiasa memainkan gender, gambang atau saron secara solo. Maka Yogya yang modern tidak akan kehilangan nilai ekosotismenya.
Menyambut tahun baru, Pemkot dapat menampilkan musik gamelan yang diarransemen secara dinamis dan kreatif oleh para senimannya. Sehingga nuansa tahun baru kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tidak hanya menampilkan band saja atau meniup terompet secara bersama-sama. (Kompas Jogja,20/12/2006)
Ady Pratama,(*)
Komunitas Anak Bawang
Translate
Tampilkan postingan dengan label pemkot jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemkot jogja. Tampilkan semua postingan
21 Juni 2009
01 Juni 2009
Nguu...ung
Dinas Pariwisata Kota Yogya bekerja sama dengan Puspar dan Pustral UGM pernah mengembangkan becak wisata untuk mengangkat citra dan menjadikan becak ikon wisata serta maskot alat transpotasi kota Yogya.
Model becak ini berbeda dengan becak umumnya karena dirancang agar pengemudi tidak merasa berat saat mengayuh dan slebornya ramping. Dilengkapi tape yang siap memutar lagu-lagu tentang Yogya, seperti karya Katon Bagaskara. Becak ini ada peta wisata, pengemudinya dibekali dengan pengetahuan kepariwisataan, bahasa Inggris dan etika.
Sayang upaya ini belum nampak hasilnya. Becak di Yogya masih seperti biasa. Slebor becak cembung, bergambar hewan sepertiharimau dan elang. Atau bergambar pemandangan alam ada gunung, sawah, danau atau sungai. Dominasi warna kerangka, badan dan slebor masih merah atau putih. Ini dampak dari kebijakan waktu itu untuk membedakan becak yang beroperasi malam dan siang.
Sisa-sisa jejak kebijakan tersebut masih dapat dilihat sampai sekarang. Jika ada yang berubah pada slebor yang dimanfaatkan oleh hotel, toko buku dan perusahaan rokok untuk beriklan.
Ini menunjukkan pengusaha, hotel, toko, Pemkot dan perguruan tinggi masih berjalan sendiri-sendiri dalam menangani becak. Ada hotel dan toko buku yang puas mengorganisir pengemudi dengan memberi kaos dan menulis slebor becak dengan nama hotel, nama toko atau mewarnai slebor dengan warna khas warna logo hotel.
Ada pemilik becak yang menjadikan slebor becaknya sebagai tempat untuk mengekspresikan diri dengan menggambar lingkungan sehari-hari yang dijumpai. Seperti menggambar perempatan tugu lengkap dengan Tugu di tengah-tengahnya. Becak ini biasa mangkal di sekitar pasar Kranggan, Jalan Jendral Sudirman, Jalan Mangkubumi dan Gowongan. Atau menggambari dengan kuda lumping dan tokoh-tokoh wayang karena pemiliknya menyukai seni tradisonal jathilan dan wayang kulit. Gambar-gambar itu memang tidak indah tetapi menarik.
Jika Pemkot ingin becak di Yogya lebih menarik, menjadi daya tarik wisata. Pemkot mesti mendorong pemilik becak lebih kreatif dalam menghias dan merawat becaknya.. Pemkot perlu bekerjasama dengan banyak pihak. Diam-diam menilai setiap becak kemudian memberi pengghargaan dan hadiah kepada pengemudi atau pemilik becak yang paling menarik dan unik. Ini dapat dilakukan setahun dua kali atau tiga kali.
Sehingga becak di Yogya nampak bersih, tidak kusam dan indah karena dihiasi berbagai pernak-pernik seperti rumbai-rumbai, lampu, spion atau bendera-bendera kecil yang berwarna-warni. Tidak lupa karet yang direntangkan di bawah tempat duduk supaya mengeluarkan bunyi “nguuu...ung”. Jadul, tetapi itu salah satu daya tariknya.
Becak jaman dulu dihiasi dengan bulu-bulu ayam, di bawah tempat duduk dipasang karet sehingga saat berjalan terkena angin, karet akan mengeluarkan bunyi yang mendengung. Becak di malam hari, dilengkapi dengan lampu ting di kanan kirinya.
Masih banyak yang menarik dari becak. Namun sayang, nampaknya Pemkot belum serius untuk menjadikan becak sebagai salah satu ikon wisata Yogya. Semoga ini tidak benar.
Eko Indarwanto,
Community for Hope and Change(Kompas Jogja, 4 Februari 2009)
Model becak ini berbeda dengan becak umumnya karena dirancang agar pengemudi tidak merasa berat saat mengayuh dan slebornya ramping. Dilengkapi tape yang siap memutar lagu-lagu tentang Yogya, seperti karya Katon Bagaskara. Becak ini ada peta wisata, pengemudinya dibekali dengan pengetahuan kepariwisataan, bahasa Inggris dan etika.
Sayang upaya ini belum nampak hasilnya. Becak di Yogya masih seperti biasa. Slebor becak cembung, bergambar hewan sepertiharimau dan elang. Atau bergambar pemandangan alam ada gunung, sawah, danau atau sungai. Dominasi warna kerangka, badan dan slebor masih merah atau putih. Ini dampak dari kebijakan waktu itu untuk membedakan becak yang beroperasi malam dan siang.
Sisa-sisa jejak kebijakan tersebut masih dapat dilihat sampai sekarang. Jika ada yang berubah pada slebor yang dimanfaatkan oleh hotel, toko buku dan perusahaan rokok untuk beriklan.
Ini menunjukkan pengusaha, hotel, toko, Pemkot dan perguruan tinggi masih berjalan sendiri-sendiri dalam menangani becak. Ada hotel dan toko buku yang puas mengorganisir pengemudi dengan memberi kaos dan menulis slebor becak dengan nama hotel, nama toko atau mewarnai slebor dengan warna khas warna logo hotel.
Ada pemilik becak yang menjadikan slebor becaknya sebagai tempat untuk mengekspresikan diri dengan menggambar lingkungan sehari-hari yang dijumpai. Seperti menggambar perempatan tugu lengkap dengan Tugu di tengah-tengahnya. Becak ini biasa mangkal di sekitar pasar Kranggan, Jalan Jendral Sudirman, Jalan Mangkubumi dan Gowongan. Atau menggambari dengan kuda lumping dan tokoh-tokoh wayang karena pemiliknya menyukai seni tradisonal jathilan dan wayang kulit. Gambar-gambar itu memang tidak indah tetapi menarik.
Jika Pemkot ingin becak di Yogya lebih menarik, menjadi daya tarik wisata. Pemkot mesti mendorong pemilik becak lebih kreatif dalam menghias dan merawat becaknya.. Pemkot perlu bekerjasama dengan banyak pihak. Diam-diam menilai setiap becak kemudian memberi pengghargaan dan hadiah kepada pengemudi atau pemilik becak yang paling menarik dan unik. Ini dapat dilakukan setahun dua kali atau tiga kali.
Sehingga becak di Yogya nampak bersih, tidak kusam dan indah karena dihiasi berbagai pernak-pernik seperti rumbai-rumbai, lampu, spion atau bendera-bendera kecil yang berwarna-warni. Tidak lupa karet yang direntangkan di bawah tempat duduk supaya mengeluarkan bunyi “nguuu...ung”. Jadul, tetapi itu salah satu daya tariknya.
Becak jaman dulu dihiasi dengan bulu-bulu ayam, di bawah tempat duduk dipasang karet sehingga saat berjalan terkena angin, karet akan mengeluarkan bunyi yang mendengung. Becak di malam hari, dilengkapi dengan lampu ting di kanan kirinya.
Masih banyak yang menarik dari becak. Namun sayang, nampaknya Pemkot belum serius untuk menjadikan becak sebagai salah satu ikon wisata Yogya. Semoga ini tidak benar.
Eko Indarwanto,
Community for Hope and Change(Kompas Jogja, 4 Februari 2009)
Langganan:
Postingan (Atom)