Di atas aliran sungai Code, sedikitnya ada tujuh jembatan yang menghubungkan wilayah yang satu dengan yang lainnya. Jembatan di Jl. Sarjito, jembatan Gondolayu di Jl Sudirman, Kewek, jembatan Jambu Jl. Mas Suharto, jembatan Juminahan dekat Jl. Jagalan dan Jl. Juminahan. Jembatan Gondomanan atau Ratmakan menghubungkan Jl. Sultan Agung dan Jl. Senopati, serta jembatan Tungkak di Jl. Sugiono. Belum lagi jembatan yang melintang di atas sungai Gajah Wong dan sungai Winongo.
Perlakuan dan perawatan Pemkot terhadap jembatan-jembatan tersebut berbeda dan terkesan diskriminatif. Jembatan Gondolayu dan Kewek menjadi anak mas Pemkot. Kedua jembatan ini dilengkapi dengan berbagai lampu hias dan banyak lampu antik. Bahkan jembatan Gondolayu dilengkapi dengan lampu sorot di kanan kirinya sehingga menimbulkan kesan yang eksotis di malam hari.
Jembatan Kewek selain sudah unik karena ada jalan kereta api yang melintas di atasnya. Oleh Pemkot dilengkapi lagi dengan taman, air mancur, lampu hias, dan lampu penerang yang menyoroti tugu adipura.
Bandingkan dengan jembatan Gondomanan, yang hanya dilengkapi empat lampu antik, tiangnya kusam dan lampu hiasnya kecil kurang proporsional untuk menghias jembatan yang cukup lebar dan ramai. Atau mungkin lampu hias tersebut sengaja dipasang oleh warga sekitar jembatan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.
Tidak ada kesan khusus bahwa jembatan itu merupakan jembatan penting karena jembatan Gondomanan menjadi salah satu sarana utama yang menghubungkan jalan menuju obyek wisata Kraton Puro Pakualaman dan Gembiraloka.
Kesan diskriminatif semakin nampak jika membandingkan dengan jembatan Tungkak di Jl. Sugiono. Jembatan ini jauh dari hiasan dan minim lampu penerang. Setiap kali pejalan kaki lewat harus menutup hidung karena bau yang tidak sedap muncul dari bawah jembatan yang banyak sampah di dasar sungai dan di tiang jembatan. Tidak ada pemandangan yang menarik saat melihat ke bawah jembatan selain sampah, rumput dan tanaman liar yang tumbuh tinggi.
Berbeda saat kita melihat ke bawah di jembatan Gondolayu, Gondomanan, Juminahan, Jambu atau jembatan Sarjito. Walau tidak terlalu bersih, sampah sudah mulai jarang terlihat. Warga sekitar kolong jembatan dan sepanjang sungai Code dari jembatan Sarjito, Gondolayu sampai Gondomanan sepertinya mengerti bagaimana menjaga sungai supaya bersih. Karena tidak sedikit warga yang memanfaatkan aliran sungai Code untuk memelihara ikan.
Sepertinya warga paham akan anjuran untuk tidak membuang sampah ke sungai. Tetapi menjadikan kolong serta samping jembatan untuk menyimpan kertas, botol bekas dan barang rongsokan lainnya seperti di bawah dan samping jembatan Gondolayu.
Semoga Pemkot dan warga sekitar jembatan-jembatan di Yogya memiliki ide membuat program untuk mempercantik jembatan, sungai dan kolong jembatan supaya bersih dan menarik untuk dilihat. Sehingga setiap jembatan yang ada di Yogya memiliki karakter tersendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya sesuai dengan karakter warga yang tinggal di sekitar jembatan.(Kompas Jogja,31/10/2007)
P Daryono(*)
Komunitas Cemara Tujuh
Translate
Tampilkan postingan dengan label code. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label code. Tampilkan semua postingan
03 Agustus 2009
Jogja dan Jembatan
Label:
code,
gajah wong,
gondolayu,
hut kemeredekaan,
jembatan,
kewek,
lampu hias,
ratmakan,
winongo
31 Juli 2009
Rusunawa, Jemuran dan Kota Budaya
Keberadaan rumah susun sedehana sewa atau rusunawa di Cokrodirjan mudah sekali menarik perhatian bagi orang yang sedang melintas di atas jembatan Juminahan atau jembatan Jambu. Karena bangunannya paling menonjol dan tinggi dibanding dengan bangunan lain di sekitarnya, di pinggir sungai Code.
Mestinya keberadaan rusunawa tiga tahun lalu, memberi nilai lebih bagi Yogya. Tidak dibiarkan menjadi bangunan yang tanpa memiliki sentuhan cita rasa seni, “kosong”, kurang menyatu dengan atmosfir Yogya.
Andaikan dinding rusunawa Cokrodirjan dihiasi lukisan mural seperti di tembok-tembok di beberapa sudut kota dan di tiang-tiang penyangga jembatan layang Lempuyangan. Tentunya keberadaan rusunawa di pinggir sungai Code menambah daya tarik kawasan pinggir sungai Code.
Sebagaimana pernah dilakukan Romo Mangun, yang tidak sekedar menata pemukiman pinggir sungai Code. Tetapi juga memberi sentuhan seni pada rumah-rumah yang terbuat dari anyaman bambu dengan memberi lukisan atau gambar yang berwarna-warni sehingga rumah-rumah sederhana itu nampak indah dan lebih humanis.
Rusunawa Cokrodirjan diresmikan tahun 2004 bersamaan dengan rusunawa di Cimahi, Gresik, Tangerang, Batam, dan Surabaya. Seyogyanya konsep membangun rusunawa di Yogya tidak sebatas pada upaya menyediakan tempat tinggal sewa yang murah dan tertata rapi. Sewa perbulan antara Rp 75 ribu sampai Rp 85 ribu, kamar mandi dan WC di dalam. Atau peduli lingkungan dengan menyediakan kamar mandi atau WC umum untuk warga sekitar rusunawa.
Tetapi bagaimana menjadikan bangunan itu unik, menarik, selaras dengan lingkungan. Penghuni sadar menjaga kebersihan, keamanan dan kenyamanan bersama. Serta tidak gagap dalam proses akulutrasi budaya.
Peraturan Pemerintah no 4 tahun 1988 tentang Rumah Susun salah satu pasalnya menyebutkan rumah susun harus dilengkapi alat pemadam kebakaran dan tempat jemuran. Di rusunawa Cokrodirjan ada tempat pemadam kebakaran tetapi alatnya tidak ada ditempat. Entah memang tidak dilengkapi atau disimpan oleh pengelola rusanunawa karena takut hilang.
Persoalan jemuran, warga rusunawa harus kreatif membuat jemuran sendiri di depan kamarnya. Jika kurang cermat saat menjemur bisa jadi baju atau yang lainnya diterbangkan angin dan jatuh di sungai Code. Jika demikian jangan berharap pakaian itu mudah ditemukan. Karena itu pembangunan rusunawa Juminahan yang mulai dikerjakaan saat ini mesti memperhatikan persoalan-persoalan sepele seperti tempat jemuran, sistem alarm, dan tempat sampah.
Penyewa rusunawa terdiri dari berbagai latar belakang budaya dan sosial. Tidak semuanya lahir dan besar di Yogya, mereka mencari nafkah di Yogya. Untuk itu dalam membangun rusunawa mesti memperhatikan nilai kelokalan dan kultur Yogya. Karena tidak tersedianya jemuran maka dengan mudah dilihat lambaian jemuran celana dalam dari jalan raya. Tentu hal itu akan merusak citra kota budaya.(Kompas Jogja.13/2/2008)
P Daryono(*)
Komunitas Cemara Tujuh
Mestinya keberadaan rusunawa tiga tahun lalu, memberi nilai lebih bagi Yogya. Tidak dibiarkan menjadi bangunan yang tanpa memiliki sentuhan cita rasa seni, “kosong”, kurang menyatu dengan atmosfir Yogya.
Andaikan dinding rusunawa Cokrodirjan dihiasi lukisan mural seperti di tembok-tembok di beberapa sudut kota dan di tiang-tiang penyangga jembatan layang Lempuyangan. Tentunya keberadaan rusunawa di pinggir sungai Code menambah daya tarik kawasan pinggir sungai Code.
Sebagaimana pernah dilakukan Romo Mangun, yang tidak sekedar menata pemukiman pinggir sungai Code. Tetapi juga memberi sentuhan seni pada rumah-rumah yang terbuat dari anyaman bambu dengan memberi lukisan atau gambar yang berwarna-warni sehingga rumah-rumah sederhana itu nampak indah dan lebih humanis.
Rusunawa Cokrodirjan diresmikan tahun 2004 bersamaan dengan rusunawa di Cimahi, Gresik, Tangerang, Batam, dan Surabaya. Seyogyanya konsep membangun rusunawa di Yogya tidak sebatas pada upaya menyediakan tempat tinggal sewa yang murah dan tertata rapi. Sewa perbulan antara Rp 75 ribu sampai Rp 85 ribu, kamar mandi dan WC di dalam. Atau peduli lingkungan dengan menyediakan kamar mandi atau WC umum untuk warga sekitar rusunawa.
Tetapi bagaimana menjadikan bangunan itu unik, menarik, selaras dengan lingkungan. Penghuni sadar menjaga kebersihan, keamanan dan kenyamanan bersama. Serta tidak gagap dalam proses akulutrasi budaya.
Peraturan Pemerintah no 4 tahun 1988 tentang Rumah Susun salah satu pasalnya menyebutkan rumah susun harus dilengkapi alat pemadam kebakaran dan tempat jemuran. Di rusunawa Cokrodirjan ada tempat pemadam kebakaran tetapi alatnya tidak ada ditempat. Entah memang tidak dilengkapi atau disimpan oleh pengelola rusanunawa karena takut hilang.
Persoalan jemuran, warga rusunawa harus kreatif membuat jemuran sendiri di depan kamarnya. Jika kurang cermat saat menjemur bisa jadi baju atau yang lainnya diterbangkan angin dan jatuh di sungai Code. Jika demikian jangan berharap pakaian itu mudah ditemukan. Karena itu pembangunan rusunawa Juminahan yang mulai dikerjakaan saat ini mesti memperhatikan persoalan-persoalan sepele seperti tempat jemuran, sistem alarm, dan tempat sampah.
Penyewa rusunawa terdiri dari berbagai latar belakang budaya dan sosial. Tidak semuanya lahir dan besar di Yogya, mereka mencari nafkah di Yogya. Untuk itu dalam membangun rusunawa mesti memperhatikan nilai kelokalan dan kultur Yogya. Karena tidak tersedianya jemuran maka dengan mudah dilihat lambaian jemuran celana dalam dari jalan raya. Tentu hal itu akan merusak citra kota budaya.(Kompas Jogja.13/2/2008)
P Daryono(*)
Komunitas Cemara Tujuh
Langganan:
Postingan (Atom)